Sepeda Motor Kami

Kendaraan pribadi, terutama yang paling sering kita pakai, agaknya sedikit banyak mencerminkan kepribadian kita. Berikut beberapa contohnya, beberapa disertai foto sebagai bukti, beberapa tidak (sayangnya).

Suzuki Smash ini adalah kepunyaan pacar saya, Didi Zulid. Sedikit banyak motor ini mencerminkan dirinya. Kemiripan pertama adalah jarangnya mandi yang dialami motor ini, berhubungan langsung dengan tampilannya yang kumal. Meskipun begitu, motor ini juga mencerminkan kepribadiannya yang lain. Motor ini tangguh dan siap untuk menempuh medan seberat dan sejauh apapun, setiap tekstur jalanan yang tidak rata digilas dengan tegas, hingga membuat pengendaranya tidak terlalu merasakan goncangan. Fisiknya juga mirip, berisi dan penuh luka seperti jerawat di pipinya. Motor ini juga tidak rewel, enak dipakai, dan fleksibel. Aksesorisnya tidak terlalu indah, namun fungsional.Seperti orangnya yang menyukai dandanan yang fungsional dan cenderung menghindari dandanan yang ribet walaupun sedap dipandang. Onderdilnya tidak sulit dicari dan luwes, menyimbolkan pragmatisme pemiliknya dalam artian positif.

Honda Beat biru nan kurus. Saya belum terlalu mengenal karena juga masih baru dan sekarang jadi jarang bertemu. Namun dari sekilas, motor ini menyimbolkan si pemilik Ashiiqa alias Unta: langsing, luwes, gesit, lincah, dan fungsional. Meskipun begitu, kadang-kadang sudut lancip dan kegesitannya mengingatkan orangnya: seram dan killer.

Honda pitung tahun 70 ini adalah milik sepupu saya, Che Wicaksono. Tampilannya yang tua namun bersih layaknya sang pemilik, terlihat sedikit kumal namun cinta kebersihan. Meskipun motor tua, motor ini jarang rewel, sekalinya rewel setelah ‘diobati’ beberapa menit akan siap kembali. Motornya tangguh dan tidak gampang rusak. Bola lampu yang rusak, bagian speedometer yang dilepas dan malah diisi berbagai peralatan kunci dan onderdil, hingga plat nomor dan STNK yang sering tidak terurus menunjukkan pragmatisme si empunya. Seperti motornya yang terpenting adalah agar bisa jalan, sepupu juga mementingkan agar kuliah dan kehidupannya terus berjalan, entah dengan berjualan tas, magang sebagai tukang sablon, hingga mengambil tang yang dimiliki bagian administrasi FIB. Suara motornya juga teratur, seperti Che yang selalu bersuara teratur dan penuh perhitungan.

Yang ini Supra X milik Dwi Agung aka Joey. Sederhana saja, motor ini tangguh, siap melewati hadangan sesulit apapun, bahkan badai, namun setelah itu lama kelamaan akan menunjukkan kondisi yang tidak sehatdan minta beristirahat cukup lama.

Yamaha Mio milik ibu saya. Fisiknya seperti si empunya, gempal dan tangguh. Motor ini luwes, lincah, dan tidak gampang rusak. Sekalinya rusak, gampang diperbaiki dan adaptif terhadap berbagai onderdil. Apa yang ada di dalam bagasi ini juga mencerminkan sang pemilik, segala sesuatunya dipersiapkan dan direncanakan dengan matang. Motor ini sering sekali dimandikan, seperti pemiliknya yang gemar mandi hingga lima kali sehari. Spedometer yang menyala, gas yang enak, hingga lampu yang menyala terang menandakan keteraturan dan ketertiban hidup pemiliknya.

Entah apa merk motor ini, maklum meskipun lelaki saya nggak di laur kepala sola motor. Motor ini milik Ganang Novriarche aka El-Biz. Seperti yang memiliki, bentuk morfologi motor ini banyak yang menonjol. Motor ini tidak sering mandi dan merawat diri. Selain itu, terkadang ia memiliki prioritas yang aneh. Prioritas rusaknya misalnya, kadang-kadang justru rusak yang sangat penting di kala hendak pergi jauh, dan rusak yang sepele sekali justru saat ada di depan bengkel. Motor ini luwes, menandakan kegemaran sang pemilik yang senang meliuk-liuk di jalanan. Motor ini juga tidak rewel, adaptif terhadap onderdil, dan tangguh menghadapi medan seberat apapun. Motor ini juga cerdik seperti si empunya, sekalinya kuncinya hilang, ia bisa dinyalakan dengan menghubungkan kabel, bagasinya bisa dibuka dengan menggunakan kayu.

Motor ini milik Arum Pudyolaksono aka Beibeh. Nggak tahu merk dan jenisnya. Sekilas, motor ini tampak sangat polos, plain, dan biasa saja. Seperti tampilan sang pemilik, yang gemar berpakaian sederhana dan biasa. Spionnya dipasang di kiri sehingga tidak terlalu fungsional, seperti pemiliknya yang kadang bertindak aneh. Namun di balik ke-biasa-annya dan kepolosannya, motor ini telah menempuh jarak dan perjalanan yang panjang, jauh, dan penuh berbagai pengalaman, seperti pemiliknya, mungkin saja.

Motor Kawasak KLX ini sudah tidak dimiliki Budi Sanjaya. Namun sedikit banyak motor ini mencerminkan sang pemilik. Mulai dari suara yang menggelegar, tampilan yang sangar, hingga ketangguhannya yang memukau, baik jalanan tak beraspal maupun hutan urban bisa dilewati dengan gagah berani. Motor ini juga sering bertindak mengejutkan seperti pemiliknya yang akhirnya menjual si motor dengan harga yang amat sangat murah, seperti mesin motor yang sudah minta diganti padahal belum satu tahun dibeli.

Bagaimana dengan motor saya sendiri? Motornya ramping dan bersuara pelan namun luwes dan lincah meskipun kecepatannya teratur. Setiap jalanan yang tidak rata, bahkan batu kecil yang tergeletak di tengah jalan, apabila terkena roda, sangat terasa sekali. Ini menyimbolkan pemiliknya yang sangat gampang mengeluh. Aksesorisnya eksotis namun tidak semuanya fungsional. Motor ini juga sangat rewel dan susah dimengerti dalam banyak hal. Mulai dari aksesoris yang hanya bisa pas bila memang benar-benar asli, hingga mesin yang kadang-kadang gampang ngambek tanpa sebab yang berarti. Sekali tergores, ia harus bersolek lagi. Keindahannya adalah sumber keribetannya. Untuk mengisi bensin, terkadang torong ataupun selang dari mesin pom harus benar-benar dimasukkan dan dengan hati-hati, kalau tidak, tidak akan masuk dan keluar lagi.

Yamaha Mio Sporty milik Wida. Tampilannya seprti sang pemilik, gempal namun mbois. Beberapa goresan dan bekas tabrakan seperti halnya jerawat di wajah sang pemilik. Jarang dimandikan dan dirawat. Tangguh dan kuat menempuh jarak yang jauh dan perjalanan yang berat. Namun sesekali, ia akan gampang bocor, seperti pemiliknya yang kadang tiba-tiba sering ngambek ketika tiba-tiba lapar.

Bagaimana dengan kendaraan milik Bonifasius Pratama? Seperti kisah cintanya, ia berpetualang dan merasakan banyak kendaraan.

Dan Heri? Idem di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.