Saya bangga dengan istri saya, Navelan Brock, sebagai orang pertama yang membeli celana dalam merk Payung di kota ini.
Setelah saya amati dan rasakan, ternyata celana dalam Payung memang nyaman, lentur, dan berbahan adem.
Jadilah saya membeli celana dalam itu dan ketika sedang berkebun dengan hanya bercelana dalam, tetangga saya tiba-tiba meneriaki, ‘Pak, tahu nggak kenapa anda pakai celana dalam itu?’
‘Yah, karena…’
‘Karena kamu tuh pengikut tren, dan kamu juga berada di bawah pengaruh istrimu, ngaku aja…’
Saya tahu bahwa nggak level meladeni orang kaya gini.
Sebulan kemudian, saya tengah merokok di teras, dan melihat tetangga saya bersama istrinya bercelana dalam kembar merk Payung.
‘Ah, tetangga, nyatanya kamu juga pake, suka juga ya?’ sapa saya baik-baik.
‘Nggak kok, saya pake karena dibelikan istri saya, jangan salah ya!’
‘Ye, remaja banged sih lo’.
5 bulan kemudian saya hendak mengantarkan masakan Salmon Pedas bikinin istri saya ke tetangga, saya mengetuk pintu dan dia membukakan sambil berteriak.
‘Lihat nih, saya habis beli celana dalam merk Payung edisi terbaru dengan gambar pentil di tengahnya! keren nggak?’
Mendingan kamu ngaca dulu deh kalau mukamu kayak tempik.